Selasa, 02 Oktober 2012

Karena Lydia Seorang Muslimah

“Taqwa tidak cukup hanya dengan meresapinya dengan hati. Butuh pembuktian bila kita memang hamba-hamba-Nya yang mukmin. Seperti engkau Lydia, sebagai seorang muslimah, shalat saja tidak cukup, tutuplah aurat muitu, agar kelak ibadahmu tidak mengikuti cara-cara setan. Itulah pesan terakhir kakek kepada kakakku Lydia. Aku ingat waktu itu, kakak yang telah duduk dibangku pendidikan tingkat sarjana mendebat habis apa yang disampaikan oleh kakek

“Islam bukan simbol kek,” kata Lydia. Mendengar itu kakek hanya tersenyum. Aku yang duduk disebelah kakek ingin rasanya merobek-robek mulutnya yang cempreng itu. Berani-beraninya mendebat bapak dari ibuku itu dengan paham ala kadarnya tentang agama yang kami anut.
Namun itulah kakek. Didebat habis-habisan oleh cucu pertamanya itu, dia hanya tersenyum. Bulir-bulir tasbih terus diputar di jemari.

“Benar sekali Lydia, Islam bukan simbol. Islam bukan baju koko. Bukan baju gamis, bukan juga kain sarung,” jawab kakek pelan sambil merapikan jenggotnya yang memutih di makan usia.
“Nah, lalu mengapa kakek mempermasalahkan tentang pakaianku yang seperti ini,” tanya Lydia sambil memamerkan juntaian rambutnya yang sebatas bahu.

“Ada perintah dalam Islam bila seorang perempuan untuk menutup aurat. Perintah itu tegas. Seorang muslimah haruslah menutup auratnya mulai ujung rambut sampai ujung kaki, kecuali muka dan telapak tangan. Haram hukumnya menampakkannya kepada lelaki yang non muhrim,” ujar kakek. Kulihat ada pesan tegas dari sorot matanya.

“Berarti Islam diskriminasi dong kek. Masak laki-laki boleh nampak rambut, dada, dan sebagainya. Kok perempuan harus menutup semua itu,” protes Lydia.
Mendengar kilah Lydia aku mulai naik darah. Ingin kulempar muka kakakku itu dengan jagung bakar yang sedang ku makan. Namun sepertinya kakek paham dengan situasi hatiku. Dengan gelengan kepala, dia tersenyum ke arahku.

Setelah membenarkan letak ija reudaknya yang mulai lusuh di makan usia, kakek menjelaskan kepada Lydia perihal kewajiban setiap muslim untuk menutup aurat. Dalam ajaran Islam batas aurat laki-lai adalah antara pusat dan lutut.

Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua telapak tangannya. Leher dan rambutnya adalah aurat di hadapan lelaki ajnabi (bukan mahram) walaupun sehelai. Pendek kata, dari ujung rambut sampai ujung kaki kecuali wajah dan dua telapak tangan adalah aurat yang wajib ditutup. Hal ini berlandaskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam surat An-Nur ayat“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya.” [TMQ An-Nur (24):31].
Kemudian kakek juga menjelaskan panjang lebar perilaku kaum kafir yang semakin digandrungi oleh sebagian generasi muslim. Menurut kakek hal ini adalah akibat dari banyaknya generasi muda yang tidak lagi paham akan agama yang diturunkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad Saw.
Kakek juga menyebutkan, kesetaraan yang dimaksud dalam Islam, bukan berarti menyamaratakan semuanya. Setara bukan sama, tetapi seimbang.
“Ingat Lydia cucuku, setara dalam agama kita, bukanlah sama, tapi seimbang. Maknanya tidak jauh beda dengan adil, adil bukan sama rata, tapi sesuai kadar,” terang kakek sambil menebarkan senyumnya yang manis.***
Banyak jalan yang diberikan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya. Aku tahu kakek tidak sepenuhnya berhasil memberikan pemahaman agama kepada Lydia. Sebab ilmu sekuler yang terlalu banyak diserap olehnya di ma’haj dulu, membuat dia begitu antusias dengan kesetaraan yang diagung-agungkan oleh sebagian besar orang Eropa.
Namun, sebuah email salah kirim dari teman sekulernya yang beragama non muslim, membuat suasana hati Lydia tiba-tiba tak menentu.

Halo teman se nusantara, halo teman dunia baru
Aku baru saja pulang dari Aceh, kalian tahu kan apa itu Aceh? Yups, itu adalah sebuah propinsi di Indonesia yang katanya menjunjung tinggi syariat Islam.
Oh iya friends, aku punya catatan khusus lo buat negeri yang dijuluki Serambi Mekkah itu.  Untuk lebih detilnya kalian bisa jumpai aku di kantor, tapi di milis ini aku akan kasih gambaran kasarnya aja.

Pertama, sepanjang amatanku, pelaksanaan Qanun syariat islam disana masih sebatas olok-olok lho. Buktinya, hukuman cambuk tak bisa diselenggarakan untuk pelanggar, hanya dikarenakan tak ada alokasi dana dari pemerintah. Hehe, hebat bukan, padahal seluruh aparatnya di gaji lho oleh dana daerah.

Kedua, perempuan disana yang tidak berjilbab dan memakai celana ketat, ditangkap oleh WH (polisi yang khusus bertugas menegakkan syariat). Satuan polisi ini tak ubahnya seperti Satpol PP di daerah kita. Padahal di sisi yang lain, penjual baju ketat, celana ketat banyak sekali di berbagai kota di Aceh. Bila ada yang protes, katanya belum ada qanun untuk menertibkan penjual baju ketat. (hebat bukan? Aneh ini daerah)

Satu hal lagi yang ingin ku share, perempuan disana, banyak pula yang tidak suka berjilbab. Mereka termakan dengan istilah ‘jilbab hati” “tudung hati”, kesetaraan, modernisasi, dan buka-bukaan tubuh atas nama kebebebasan. Mereka berani melanggar larangan agamanya, hanya demi kata “setara”yang tak mereka pahami dengan benar maknanya.

Aneh tidak? Jelas aneh dong, masak orang yang ngakunya muslimah, mau buka-bukaan aurat di depan orang yang bukan muhrimnya. Bayangin gak, betapa tololnya perempuan disana? Padahal mereka Islam. Bagiku inilah ciri muslim yang munafik. Hahahaha......, oke deh. Nanti ku share lagi infonya ya.
Salam
Maria Lowbow
Mungkin Maria memahami kesalahannya mentaut surat elektronik. Dia mengirimkan permintaan maaf pada surel yang lain.
Lydia sahabatku
Maaf ya, kemarin aku salah kirim. Itu isinya tidak serius kok. Cuma main-main aja sama teman-temanku di Anglikan. Jangan diambil hati ya.
Salam
Maria Lowbow
Namun sebuah warna sadar telah hadir di lubuk hati Lydia. Ternyata orang-orang itu tetap mengejek muslimah yang ikutan gaya modern seperti orang Eropa. Rupanya apa yang selama ini diajarkan oleh kakek benar adanya. Mereka tidak akan kunjung berhenti meng –Eropa-kan setiap muslim dan muslimah, dan kemudian mengejeknya dibelakang.***
Sejak saat itu tak lagi kulihat Lydia yang memakai tank top. Tak berjilbab dan semuanya yang serba modern itu. Shalatnya semakin tertib. Yang luar biasa sekali, dia kini sudah berbusana muslim dengan benar. Ketika suatu pagi kutanyakan tentang perasaannnya, dengan lugas dia menjawab.
“Adikku yang ganteng. Kakak ini adalah muslimah. Agama kakak mewajibkan umatnya untuk menutup aurat. Kakak juga tidak mau disebut sebagai muslimah yang munafik. Sebab kafir akan tetap mengolok kita dari belakang,” ujar Lydia sambil tersenyum.

Banda Aceh, awal Oktober 2012

sumber : www.theglobejournal.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar