“Taqwa tidak cukup hanya dengan meresapinya dengan hati. Butuh
pembuktian bila kita memang hamba-hamba-Nya yang mukmin. Seperti engkau
Lydia, sebagai seorang muslimah, shalat saja tidak cukup, tutuplah aurat
muitu, agar kelak ibadahmu tidak mengikuti cara-cara setan.
Itulah pesan terakhir kakek kepada kakakku Lydia. Aku ingat waktu
itu, kakak yang telah duduk dibangku pendidikan tingkat sarjana mendebat
habis apa yang disampaikan oleh kakek
“Islam bukan simbol kek,” kata Lydia. Mendengar itu kakek hanya
tersenyum. Aku yang duduk disebelah kakek ingin rasanya merobek-robek
mulutnya yang cempreng itu. Berani-beraninya mendebat bapak dari ibuku
itu dengan paham ala kadarnya tentang agama yang kami anut.
Namun itulah kakek. Didebat habis-habisan oleh cucu pertamanya itu,
dia hanya tersenyum. Bulir-bulir tasbih terus diputar di jemari.
“Benar sekali Lydia, Islam bukan simbol. Islam bukan baju koko. Bukan
baju gamis, bukan juga kain sarung,” jawab kakek pelan sambil merapikan
jenggotnya yang memutih di makan usia.
“Nah, lalu mengapa kakek mempermasalahkan tentang pakaianku yang
seperti ini,” tanya Lydia sambil memamerkan juntaian rambutnya yang
sebatas bahu.
“Ada perintah dalam Islam bila seorang perempuan untuk menutup aurat.
Perintah itu tegas. Seorang muslimah haruslah menutup auratnya mulai
ujung rambut sampai ujung kaki, kecuali muka dan telapak tangan. Haram
hukumnya menampakkannya kepada lelaki yang non muhrim,” ujar kakek.
Kulihat ada pesan tegas dari sorot matanya.
“Berarti Islam diskriminasi dong kek. Masak laki-laki boleh nampak
rambut, dada, dan sebagainya. Kok perempuan harus menutup semua itu,”
protes Lydia.
Mendengar kilah Lydia aku mulai naik darah. Ingin kulempar muka
kakakku itu dengan jagung bakar yang sedang ku makan. Namun sepertinya
kakek paham dengan situasi hatiku. Dengan gelengan kepala, dia tersenyum
ke arahku.
Setelah membenarkan letak ija reudaknya yang mulai lusuh di
makan usia, kakek menjelaskan kepada Lydia perihal kewajiban setiap
muslim untuk menutup aurat. Dalam ajaran Islam batas aurat laki-lai
adalah antara pusat dan lutut.
Aurat wanita adalah seluruh anggota tubuhnya kecuali wajah dan dua
telapak tangannya. Leher dan rambutnya adalah aurat di hadapan lelaki
ajnabi (bukan mahram) walaupun sehelai. Pendek kata, dari ujung rambut
sampai ujung kaki kecuali wajah dan dua telapak tangan adalah aurat yang
wajib ditutup. Hal ini berlandaskan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala
dalam surat An-Nur ayat“Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak darinya.” [TMQ An-Nur (24):31].
Kemudian kakek juga menjelaskan panjang lebar perilaku kaum kafir
yang semakin digandrungi oleh sebagian generasi muslim. Menurut kakek
hal ini adalah akibat dari banyaknya generasi muda yang tidak lagi paham
akan agama yang diturunkan oleh Allah melalui Nabi Muhammad Saw.
Kakek juga menyebutkan, kesetaraan yang dimaksud dalam Islam, bukan
berarti menyamaratakan semuanya. Setara bukan sama, tetapi seimbang.
“Ingat Lydia cucuku, setara dalam agama kita, bukanlah sama, tapi
seimbang. Maknanya tidak jauh beda dengan adil, adil bukan sama rata,
tapi sesuai kadar,” terang kakek sambil menebarkan senyumnya yang
manis.***
Banyak jalan yang diberikan oleh Allah kepada setiap hamba-Nya. Aku
tahu kakek tidak sepenuhnya berhasil memberikan pemahaman agama kepada
Lydia. Sebab ilmu sekuler yang terlalu banyak diserap olehnya di ma’haj dulu, membuat dia begitu antusias dengan kesetaraan yang diagung-agungkan oleh sebagian besar orang Eropa.
Namun, sebuah email salah kirim dari teman sekulernya yang beragama
non muslim, membuat suasana hati Lydia tiba-tiba tak menentu.
Halo teman se nusantara, halo teman dunia baru
Aku baru saja pulang dari Aceh, kalian tahu kan apa itu Aceh?
Yups, itu adalah sebuah propinsi di Indonesia yang katanya menjunjung
tinggi syariat Islam.
Oh iya friends, aku punya catatan khusus lo buat negeri yang
dijuluki Serambi Mekkah itu. Untuk lebih detilnya kalian bisa jumpai
aku di kantor, tapi di milis ini aku akan kasih gambaran kasarnya aja.
Pertama, sepanjang amatanku, pelaksanaan Qanun syariat islam
disana masih sebatas olok-olok lho. Buktinya, hukuman cambuk tak bisa
diselenggarakan untuk pelanggar, hanya dikarenakan tak ada alokasi dana
dari pemerintah. Hehe, hebat bukan, padahal seluruh aparatnya di gaji
lho oleh dana daerah.
Kedua, perempuan disana yang tidak berjilbab dan memakai celana
ketat, ditangkap oleh WH (polisi yang khusus bertugas menegakkan
syariat). Satuan polisi ini tak ubahnya seperti Satpol PP di daerah
kita. Padahal di sisi yang lain, penjual baju ketat, celana ketat banyak
sekali di berbagai kota di Aceh. Bila ada yang protes, katanya belum
ada qanun untuk menertibkan penjual baju ketat. (hebat bukan? Aneh ini
daerah)
Satu hal lagi yang ingin ku share, perempuan disana, banyak pula
yang tidak suka berjilbab. Mereka termakan dengan istilah ‘jilbab hati”
“tudung hati”, kesetaraan, modernisasi, dan buka-bukaan tubuh atas nama
kebebebasan. Mereka berani melanggar larangan agamanya, hanya demi kata
“setara”yang tak mereka pahami dengan benar maknanya.
Aneh tidak? Jelas aneh dong, masak orang yang ngakunya muslimah,
mau buka-bukaan aurat di depan orang yang bukan muhrimnya. Bayangin gak,
betapa tololnya perempuan disana? Padahal mereka Islam. Bagiku inilah
ciri muslim yang munafik. Hahahaha......, oke deh. Nanti ku share lagi
infonya ya.
Salam
Maria Lowbow
Mungkin Maria memahami kesalahannya mentaut surat elektronik. Dia mengirimkan permintaan maaf pada surel yang lain.
Lydia sahabatku
Maaf ya, kemarin aku salah kirim. Itu isinya tidak serius kok.
Cuma main-main aja sama teman-temanku di Anglikan. Jangan diambil hati
ya.
Salam
Maria Lowbow
Namun sebuah warna sadar telah hadir di lubuk hati Lydia. Ternyata
orang-orang itu tetap mengejek muslimah yang ikutan gaya modern seperti
orang Eropa. Rupanya apa yang selama ini diajarkan oleh kakek benar
adanya. Mereka tidak akan kunjung berhenti meng –Eropa-kan setiap muslim
dan muslimah, dan kemudian mengejeknya dibelakang.***
Sejak saat itu tak lagi kulihat Lydia yang memakai tank top.
Tak berjilbab dan semuanya yang serba modern itu. Shalatnya semakin
tertib. Yang luar biasa sekali, dia kini sudah berbusana muslim dengan
benar. Ketika suatu pagi kutanyakan tentang perasaannnya, dengan lugas
dia menjawab.
“Adikku yang ganteng. Kakak ini adalah muslimah. Agama kakak
mewajibkan umatnya untuk menutup aurat. Kakak juga tidak mau disebut
sebagai muslimah yang munafik. Sebab kafir akan tetap mengolok kita dari
belakang,” ujar Lydia sambil tersenyum.
Banda Aceh, awal Oktober 2012
sumber : www.theglobejournal.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar